Antara Obama Dan Formasi Kabinet Israel Menjelang Target Negara Palestina September 2011


Presiden Palestina Mahmoud Abbas ( kanan ) bertemu dengan Pejabat Uni Eropa Untuk Kebijakan Luar Negeri Catherine Ashton di Tepi Barat, REUTERS/Fadi Arouri/Pool

 

Jakarta 17 Februari 2011 (KATAKAMI) —  Pejabat Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Luar Negeri, Catherine Ashton menyampaikan sebuah pernyataan yang terasa sudah basi tetapi cukup penting dicermati seputar target ( deklarasi pendirian ) Negara Palestina.

Ashton mengatakan bahwa walaupun kabinet Palestina mengundurkan diri beberapa hari lalu, disusul pengunduran diri juru runding Palestina Saab Erakat tetapi target (berdirinya ) Negara Palestina bisa dicapai bulan September 2011 walau masih terjadi kekacauan politik di wilayah tersebut”.

Ia mengatakan hal ini sesuai bertemu dengan para pimpinan Israel hari Rabu, 16 Februari 2011 lalu.

Tak hanya bertemu dengan para pimpinan Israel, pejabat Uni Eropa ini juga bertemu dengan para pimpinan Palestina.

Lalu mengapa pernyataan Ashton bisa dikategorikan basi ?


Presiden Barack Obama menyampaikan pidatonya di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa tanggal 22 September 2010

 

Ya, sebab Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah lebih dahulu mencetuskan ambisinya untuk mendorong pendirian Negara Palestina.

Obama dengan rasa percaya diri menyampaikan itu saat berpidato di hadapan Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa bulan September 2010 lalu.

Di sidang Majelis Umum itu jugalah ( pada bulan September 2010 ) itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengejek Obama bahwa sepertinya Amerika Serikatlah yang ada di balik serangan 11 September ( 9/11 ). Pidato kontroversial dari Ahmadinejad ini mengundang kecaman dari banyak pihak, termasuk dari Obama secara pribadi.

Lalu kembali ke target berdirinya Negara Palestina pada bulan September 2011 mendatang ( sesuai dengan “petunjuk” Yang Mulia Barack Obama di depan Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2010 ), apakah yang akan terjadi menjelang peristiwa penting tersebut ?

Timur Tengah seakan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi sejak dua bulan terakhir ini.

 

Dokumentasi Foto : Presiden Mesir Hosni Mubarak (Kiri) dan Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali, setibanya Mubarak dalam kunjungan kenegaraannya ke Tunisia, tanggal 30 Oktober 2006 ( REUTERS/Mohamed Hammi/Files )

 

Diawali dengan jatuhnya Presiden Tunisia Zine El Abidin Ben Ali pada tanggal 14 Januari 2011.

Seolah bernasib sama dan mendapat takdir politik yang tak sedap, Presiden Mesir Hosni Mubarak juga lengser keprabon pada tanggal 10 Februari 2011 ( tetapi pengunduran diri itu diumumkan melalui sang wakil yaitu Omar Suleiman ).

Beda-beda tipis situasinya, Yordania juga mulai bergejolak ( walau tak separah Tunisia dan Mesir ).

Dan kalau semua pihak cukup jeli mengamati guncangan-guncangan yang membidik Timur Tengah sejak dua bulan terakhir ini, sesungguhnya jurus goyang menggoyang dunia perpolitikan di wilayah Timur Tengah ( dan dunia secara keseluruhan ) sudah diawali dari bocornya sejumlah data diplomatik Amerika lewat WIKILEAKS.

Sejak November 2010, dunia tercengang dengan sejumlah ejekan tak bermutu dari kalangan diplomat Amerika kepada para pemimpin dunia yang sangat dihormati di negaranya masing-masing.

Hampir semua kena sodok dari bocoran Wikileaks.

Kekuatan Islam dan Negara-Negara Arab seakan mau diadu-domba.

Kekuatan Barat dan Negara-Negara Eropa yang punya pengaruh sangat penting seakan dilecehkan.

Tidak etis menguraikannya kembali disini sebab ejekan-ejekan itu sungguh sangat menyakitkan hati dan melukai martabat dari masing-masing pemimpin dunia yang diejek.

 

Dokumentasi Foto : Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat bertelepon dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, 3 Desember 2010 ( (Photo by Moshe Milner/GPO via Getty Images)

 

Termasuk “penyadapan” yang dilakukan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ketika Bibi ( panggilan Netanyahu ) mendiskusikan dan mengecam partai politik yang menjadi lawannya yaitu Partai Kadima.

Walaupun sesungguhnya kalau mau jujur, data diplomatik yang dibocorkan ini sungguh tak adil kepada para pemimpin negara-negara Timur Tengah dan Eropa.

Sebab, bocoran tentang para pemimpin Israel sungguh sangat minim dan datar-datar saja.

Barangkali diplomat Amerika yang bertugas di Israel memang diplomat yang santun dan tahu bagaimana “kegilaan” Israel sebab kalau  sampai ketahuan para pemimpin di Israel diejek dan disadapi secara berlebihan, Israel bisa membalas dengan lebih menyakitkan.

Dan setelah dikejutkan dengan bocoran Wikileaks, bulan Januari 2011 juga terjadi hal yang rada-rada mirip yaitu sejumlah dokumen dari pemerintah Palestina dibocorkan oleh sebuah media.

Bocoran itu antara lain berisi sejumlah kebijakan kabinet Presiden Abbas yang cenderung menguntungkan Israel.

Pemerintah Palestina sendiri mengecam pembocoran ini dan membantah dengan keras bocoran-bocoran tersebut.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Kiri) berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC tanggal 1 September 2010 ( (Photo by Ron Sachs-Pool/Getty Images)

 

Jadi sejak November 2010, dunia internasional sedang diajak marathon untuk menyaksikan berbagai panggung kehidupan di kancah internasional.

Dan kembali pada target pendirian Negara Palestina di bulan September 2011 mendatang, bagaimana reaksi dan yang terlebih penting formasi dalam kabinet Israel saat ini ?

Obama tentu sudah sangat mempelajari bagaimana formasi kabinet Israel saat ini disaat Amerika Serikat seakan dibawa oleh gerakan politik Obama untuk mewujudkan target pendirian Negara Palestina di bulan September mendatang.

Presiden Israel Shimon Peres, didampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Bibi, yang dingin, tenang dan bersuara sangat dalam sekali intonasinya, kadang sangat sinis mengkritik Obama jika tindakan Obama dianggap sudah sangat keterlaluan.

Misalnya saat Bibi diperlakukan sangat tidak baik saat diundang datang ke Gedung Putih (Maret 2010), Bibi menuliskan dalam salah satu akun twitternya bahwa Obama bukan teman dari Israel dan harusnya Obama mengganti namanya menjadi Presiden Osama :

President Obama is no friend of Israel. His name should be President Osama.

Kabinet Bibi juga memiliki sejumlah menteri senior yang berpengaruh.

Termasuk didalamnya Mantan Perdana Menteri Israel ( yang kini menjadi Menteri Pertahanan ) Ehud Barak dan Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman.

Di bagian militer, Israel baru mengganti pimpinan militer mereka dari Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi diserahkan kepada Mayor Jenderal Benny Gantz ( kini dipromosikan menjadi Jenderal bintang 3 setelah memangku jabatan sebagai pimpinan IDF ).

Di bagian intelijen, Israel juga sudah lebih dulu mengganti pimpinan Mossad dari Meir Dagan diserahkan kepada Tamir Pardo.

Israel tentu sudah mendengar, menyimak dan mencatat baik-baik isi pidato Obama saat tampil di Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2010 lalu bahwa Palestina harus sudah menjadi sebuah Negara pada Sidang Majelis Umum PBB di bulan September 2011 mendatang.

Israel tentu sudah tidak terkejut ketika Catherine Ashton mengulangi lagi target penting di bulan September mendatang.

 

Ilustrasi gambar : BENDERA PALESTINA

 

Yang menjadi pertanyaan, akan menjadi seburuk apa situasi politik dan keamanan di Negara-Negara Teluk dan wilayah Timur Tengah secara keseluruhan menjelang bulan September mendatang ?

Akan ada lagikah para pemimpin negara yang jatuh dan dijatuhkan ?

Akan ada lagilah tragedi-tragedi kemanusiaan yang menelan korban jiwa disana sini secara brutal dan penuh darah ?

Sepenting apakah momen pengumuman tentang berdirinya Negara Palestina ?

Apakah hanya akan menjadi seremoni belaka yang tak akan banyak membantu rakyat Palestina untuk hidup dalam sebuah negara yang benar-benar menjadi negara yang berdaulat ?

Disinilah Obama atau siapapun juga yang secara tegas ingin menuju pada satu titik penting pendeklarasian Negara Palestina di bulan September mendatang mencermati segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh.

Sebagai Israel tetap akan diatas angin.

Israel seakan sudah lebih cepat dan lebih dulu mempelajari watak, gaya dan ambisi politik pemerintahan Obama yang terkesan lebih Pro Arab ( berbeda dengan Presiden-Presiden Amerika sebelumnya yang “cukup akrab” bersekutu kuat dengan Israel ).

Dalam arti kata, situasi tentang kemungkinan berdirinya Palestina sebagai sebuah negara seakan sudah diprediksi secara baik oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang kesiapan Israel hidup berdampingan sebagai sebuah negara dengan Palestina.

Bibi Netanyahu sudah menyampaikan ini secara terbuka, jelas dan gamblang padapidatonya di Pusat Studi Strategis Begin-Sadat (BESA), Universitas Bar-Ilantanggal 14 Juni 2009.

Cupilkan pidato tersebut antara lain menyebutkan sebagai berikut :

“Oleh karena itu, hari ini kami meminta teman-teman kami di komunitas internasional, yang dipimpin oleh Amerika Serikat, untuk sangat mengkritisi situasi keamanan di Israel. Tegas. Berkomitmen bahwa dalam perjanjian perdamaian di masa depan, wilayah yang dikuasai oleh Palestina akan dilakukan demiliterisasi: yaitu, tanpa tentara, tanpa kontrol wilayah udara, dan dengan langkah-langkah keamanan yang efektif untuk mencegah penyelundupan senjata ke wilayah itu – pemantauan nyata. Jadi bukan seperti yang terjadi di Gaza pada saat ini”

Dalam pidato itu, Bibi menutup pidatonya dengan sebuah kalimat sederhana tetapi bermakna dalam sekali yaitu :

With Gods help, we will know no more war. We will know peace.


Presiden Barack Obama (Kanan) mendengarkan pidato yang disampaikan Presiden Mahmoud Abbas seusai melakukan pembicaraan damai di Gedung Putih tanggal 1 September 2010. Acara ini juga dihadiri oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Presiden Mesir Hosni Mubarak dan Raja Abdullah II dari Kerajaan Yordania, ketiganya tidak tampak di gambar. ( REUTERS/Jason Reed )

 

Yang kini harus disampaikan kepada semua pihak tentang perdamaian antara Israel dan Palestina adalah wujudkanlah perdamaian itu tanpa harus mengorbankan banyak pihak yang semestinya tak perlu dikorbankan.

Sebab memburuknya situasi di kawasan Timur Tengah, hanya akan memperburuk juga masa depan perdamaian Israel dan Palestina.

Perang tak akan terhindarkan lagi.

Perang demi perang seakan sudah di depan mata.

Israel (barangkali) akan tetap tenang dalam kebungkaman mereka menyaksikan pergeseran-pergeseran situasi keamanan di wilayah-wilayah yang menjepit negara mereka dari lembaran peta dunia.

Tapi bisa diperkirakan bahwa saat ini Militer (IDF) dan intelijen Israel (Mossad) tentu sudah bergerak cepat semua mempelajari semua hal yang saling terkait menyangkut apapun yang bisa menguntungkan atau merugikan negara mereka sampai hal-hal yang sangat detail.

Insiden Mavi Marmara pada bulan Mei 2010 lalu, tentu menjadi pelajaran yang sangat berarti dan penting sekali bagi militer Israel (IDF).

IDF dihadapkan pada dua pilihan yang sulit yaitu menjaga kedaulatan negara mereka tanpa kompromi tetapi mereka dituntut untuk menerima delegasi perdamaian membawa bantuan kemanusiaan (tetapi anehnya ada diantara para penumpang kapal yang membawa senjata tajam).

Enam kapal yang datang, jatuh korban jiwa 9 orang.

Ini belum termasuk sejumlah prajurit Israel yang terluka akibat serangan senjata tajam sejumlah penumpang kapal.

Insiden Mavi Marmara yang berbuntut sangat panjang ini pasti akan menjadi catatan tersendiri bagi IDF untuk memperkuat pertahanan mereka ke depan di tengah memburuknya situasi keamanan di banyak negara sekitar Israel.

Yang harusnya diperhitungkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa ( terutama oleh Amerika Serikat ) adalah fokuskanlah upaya mendamaikan Israel dan Palestina, terutama ambisi besar mendukung berdirinya Negara Palestina, pada hal-hal yang substansial dengan kedua agenda penting ini.

Lakukanlah semua cara yang menjamin keamanan di Timur Tengah.

Hindari setiap kecenderungan melakukan pendiktean atau intervensi terhadap masalah-masalah domestik dalam negeri ( dari negara manapun didunia ini ).

 

Dokumentasi Foto : Presiden Shimon Peres ( Kedua dari Kiri ) didampingi Menteri Pertahanan Ehud Barak ( Paling Kiri ), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Ketiga dari Kanan ) dan Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman dalam sebuah acara.

 

Wajah dari kabinet Israel yang saat ini dipimpin Presiden Shimon Peres dengan diperkuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu seakan menjadi misteri tak terpecahkan oleh pihak yang berkeinginan kuat mengalahkan Israel.

Sebab para pemimpin Israel ini memang sangat tak terduga dan memaksa siapapun juga untuk sangat berhati-hati dalam menghadapi negara zionis ini.

Sampai bulan September nanti, formasi ideal dari kabinet Israel memang yang sudah ada seperti sekarang.

Bibi Netanyahu memang paling cocok dipasang untuk mengimbangi gerak politik Obama yang berkaitan dengan isu-isu Israel.

Dan kabinet Israel yang sekarang memang tepat jika disebut sebagai misteri yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya proses perundingan damai dengan Palestina.

Mereka bisa tersenyum dan berjabatan tangan dengan ramah dengan siapapun juga tamu negara.

Mereka bersedia datang ke negara manapun yang mengundang.

Mereka juga siap menyambut dengan penuh keramahan tamu negara dari manapun juga yang datang ke Israel.

Tetapi Israel juga bisa secara mendadak menggempur tetangganya kalau sudah marah dan mengamuk akibat provokasi Hamas lewat gempuran mortir mereka ke wilayah Israel.

Sebab sering kelompok bersenjata HAMAS yang menyerang Israel dengan mortir-mortir mereka ( dan balasan dari Israel juga beragam, kadang dibalas dengan serangan udara tetapi beberapa kali Israel menempuh jalur diplomatik yaitu melaporkan serangan demi serangan Hamas itu ke PBB ).

Namun pernah beberapa kali, Palestina tak melakukan provokasi apapun, Israel bisa menyerang dadakan.

Membingungkan.

Memang tak salah, jika Israel ini disebut negara yang paling “gila” di dunia ini.

Tak terlalu besar wilayahnya tetapi sangat kuat di bidang pertahanan dan keamanannya.

Tak segan menyerang Iran karena proyek nuklir tetapi sesungguhnya Israel sendiri dikabarkan memiliki sarana nuklir yang sangat canggih.

Namanya juga Israel, kadang pihak manapun yang mengikuti gerak Israel ini akan dipaksa untuk menjadi sakit kepala dan pusing yang berkepanjangan.

Israel memang seakan menjadi negara paling aneh sedunia.

Tapi Israel tak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka menjadi negara yang disegani kawan dan ditakuti lawan.

Gaya mereka berpolitik dan cara mereka menjalankan pemerintahannya pun seakan tak mau terpengaruh oleh arus dunia yang sedang hingar bingar karena sesuatu hal.

Ketika seluruh dunia heboh dengan situasi keamanan di Mesir dan kuatnya tuntutan agar Presiden Hosni Mubarak turun dari jabatannya, Israel menarik diri dari hingar bingar itu.

Perdana Menteri Netanyahu melarang semua menterinya ngoceh ngalor ngidul sembarangan ke media soal Mesir.

 

Kepala Staf Angkatan Darat Israel (Pimpinan baru IDF) Letnan Jenderal Benny Gantz ( Kiri ) bersama Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi dalam upacara penghormatan di di Markas IDF dalam rangka pergantian tugas pimpinan IDF. (Photo : IDF Website )

Dan hebatnya lagi, walaupun dilarang oleh Sang Perdana Menteri untuk ngoceh ngalor ngidul soal Mesir tetapi sejumlah anggota kabinet Israel bisa justru asyik sendiri memainkan isu internal militer mereka yaitu tentang siapa yang akan memimpin IDF.

Tarik menarik tentang cikal bakal pimpinan IDF merajai pemberitaan media Israel selama beberapa waktu sampai akhirnya Presiden Shimon Peres berbicara agar jagoan-jagoannya tutup mulut soal siapa yang bakal memimpin IDF.

Shimon Peres yang cenderung pelit dan termasuk jarang berbicara kepada media, mendadak bicara menertibkan pemerintahannya yang tiba-tiba bunyi semua di media soal pimpinan IDF.

Intinya, Shimon Peres mengatakan, “Sebagai teman, saya nasehati kalian untuk diam !”.

( Tanpa harus memakai kata ” Teman “, jika seorang presiden menyuruh bawahannya untuk diam maka sudah pasti perintah itu akan dituruti. Tetapi Shimon Peres tampaknya mencoba santun tetapi keras menghardik ).

Bayangkan, di kala dunia internasional ( terutama Amerika ) sangat antusias mengomentari urusan dalam negeri Mesir misalnya, Israel sibuk dan seakan menikmati isu mereka sendiri yaitu pergantian pimpinan IDF.

Selama ini, jika diperhatikan dengan seksama ialah hal yang tak biasa terjadi di Kabinet Israel adalah jurus serang menyerang lewat pernyataan-pernyataan terbuka di media.

Sehingga kalau hal itu terjadi ( terjadi perang media alias saling serang lewat pernyataan terbuka di media ), yang harus dilakukan oleh pihak manapun yang menjadi pemerhati Israel ini adalah mencerna ada apa dibalik itu semua.

Itulah Israel.

Israel pintar memainkan isu dan mengemas semua pemberitaan yang sudah mereka prediksi akan keluar mengenai negara mereka.

Sehingga untuk bisa menghadapi Israel, seolah-olah peraturan pertama yang harus kita ingat bersama adalah jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan tentang apa yang sedang terjadi di internal Israel.

Dan kembali tentang target penting di bulan September 2011 tentang berdirinya Negara Palestina (yang sudah terang-terangan dicanangkan Obama dan kini diikuti oleh Uni Eropa), lakukanlah pra kondisi yang sungguh dapat menjamin situasi keamanan dalam arti yang sesungguhnya.

Sebab jika misalnya ada pihak tertentu yang sangat berambisi ingin membuat Israel malu atau kalah di panggung internasional misalnya, hal ihwal berdirinya Negara Palestina ini sudah diprediksi lebih dahulu oleh Israel.

Israel tak akan pernah kehilangan muka.

Jadi janganlah ada yang mengarahkan gerakan internasional untuk urusan kalah menang dan agenda tersembunyi mempermalukan Israel.

Sebab percayalah, negara segila Israel pasti sudah pasang ancang-ancang dan sudah memperhitungkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.

Bahkan jika dalam hitung-hitungan mereka, ada kemungkinan terjadi ancaman tertentu pada negara mereka, mungkinkah negara segila Israel akan tenang-tenang saja membiarkan mereka diberangus ?

Rasanya tidak mungkin !

Yang justru harus diminta kepada Israel adalah kesediaan mereka berkoordinasi dengan semua pihak internasional dan terus mau melanjutkan perundingan damai dengan Palestina dalam kerangka yang positif.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Kiri) berjabatan tangan dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas disaksikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton di Departemen Luar Negeri AS, 2 September 2010 REUTERS/Jim Young

 

Jika Palestina hendak didukung menjadi sebuah negara berdaulat, dukunglah juga Israel berdiri sebagai negara yang berdaulat.

Berdaulat artinya tidak didikte, tidak dipecundangi, tidak dipermalukan dan sungguh dihargai sebagai sebuah negara.

Berdaulat artinya tidak diatur siapa yang harus kalah dan siapa yang harus dimenangkan.

Berdaulat artinya tidak ditunjukkan kemunafikan tingkat tinggi yaitu seolah-olah didukung di depan muka tetapi diam-diam akan ditikam dari belakang agar terjatuh dan ambruk.

Siapapun juga pasti akan setuju bahwa Negara Palestina memang harus didukung sepenuhnya oleh dunia internasional.

Obama tidak perlu GR alias Gede Rasa bahwa seolah-olah hanya dirinya yang paling peduli soal Palestina sebab Obama saja baru dua tahun menjadi Presiden Amerika.

Indonesia termasuk negara yang sangat kuat mendukung berdirinya Negara Palestina.

Indonesia bahkan menjadi Negara yang sangat cepat menunjukkan kepedulian jika terjadi sesuatu pada Palestina selama ini.

Jadi urusan Palestina, tak hanya menjadi dominasi kepedulian Barack Obama atau Amerika.

Dunia internasional secara keseluruhan punya kepedulian yang sama besar dan sama kuat mengenai masalah Palestina.

Yang jadi persoalan adalah mengawal jalannya proses perdamaian ini ke arah yang positif dan tak menimbulkan instabilitas di wilayah Timur Tengah.

Dukunglah Palestina dan beri mereka bantuan sesuai yang mereka butuhkan.

 

Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad

 

Dukunglah Palestina agar Pemilihan Umum mereka dapat berjalan dengan baik dan sukses.

Termasuk di Jalur Gaza, HAMAS tak boleh menghalangi rencana pelaksanaan Pemilihan Umum disana.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Mahmoud Abbas pada hari Kamis 17 Februari bahwa pemilu yang dijanjikan pada bulan September tidak akan dilakukan jika Hamas menolak untuk mengizinkan pemungutan suara di Jalur Gaza.

“Pemilihan harus mencakup Tepi Barat dan Gaza, dan tanpa itu kita tidak bisa menyelenggarakan pemilihan umum,” kata Presiden  Abbas dalam konferensi pers seusai bertemu dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, Kamis (17 Feb).

Dukunglah Palestina agar Kabinet Pemerintahan yang akan terbentuk tetap sangat kooperatif dalam perundingan dengan Israel ( entah itu dipelopori oleh Amerika, Kwartet dan Pihak manapun di komunitas internasional ).

Dukunglah Palestina juga dengan cara menjalin komunikasi dan diplomasi yang sama baiknya dengan pihak Israel ( sebab jika terjadi sesuatu, maka para Pemimpin Dunia bisa dengan mudah melakukan lobi, pendekatan dan komunikasi dengan para pemimpin Israel agar kebijakan mereka yang kurang tepat dapat dipertimbangkan kembali ).

Dukunglah Palestina  tanpa henti.

Tetapi diatas semua itu, situasi keamanan di wilayah Teluk dan Timur Tengah secara keseluruhan harus tetap kondusif dan aman.

Kalau situasi keamanan disana tetap seperti orang yang tersengat aliran listrik bertegangan sangat tinggi, bagaimana perdamaian itu bisa terwujud secara baik ?

Perdamaian adalah sebuah keindahan yang melodinya harus dimainkan dengan nada-nada yang indah dan enak untuk didengar.

 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat berpidato dalam sebuah Konferensi di Yerusalem, 16 Februari 2011 (Photo y GALI TIBBON/AFP/Getty Images)

 

Ya, perdamaian adalah sebuah SIMPHONY yang indah.

Apapun jenis musiknya, sepanjang senandung yang ingin dinyanyikan adalah soal perdamaian maka pastikanlah bahwa senandung perdamaian itu tak diisi dengan “agenda politik” yang sumbang dan tak enak untuk didengar.

Jrang Jreng Jrang Jreng.

Tra La La Tri Li Li

Mari bernyanyi tentang perdamaian ( tanpa harus menyaksikan disana sini terjadi pertumpahan darah dan pemandangan tak sedap yang menggilir pemimpin-pemimpin dunia tertentu berjatuhan ).

Tra La La Tri Li Li

Mari bernyanyi tentang perdamaian dengan meminta tanpa henti kepada Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar Israel mempertimbangkan melepas tahanan-tahanan perempuan dan anak-anak yang ada di penjara Israel.

Lalu melonggarkan blokade di Gaza, termasuk diantaranya membiarkan pasokan air bersih yang lebih banyak untuk Palestina.

Kemudian, membisikkan juga sebuah pertanyaan sederhana kepada Palestina, “Dimanakah kini prajurit Gilad Shalit berada ?”

Lalu menyerukan kepada HAMAS agar berhenti bermain-main dengan lempar melempar mortir mematikan ke arah Israel agar tidak memperburuk situasi yang ada.

Oh, masih jauh jika ingin menikmati SIMPHONY yang indah tentang perdamaian antara Israel dan Palestina jika semua pihak yang harusnya mendukung, ternyata hanya setengah hati memberikan dukungan nyata agar perdamaian itu terwujud juga secara nyata.

Bukan Basa Basi !

(MS)

%d bloggers like this: